Langsung ke konten utama

Dunia Kerja



Kali ini gue bakal cerita tentang dunia kerja. Dunia yang baru-baru ini bikin gue ngerti kalau Allah akan selalu mengabulkan doa paling penting terlebih dahulu dari sekian banyak doa yang kita minta.

Ya, udah enam bulan gue mulai kerja di Jakarta, di perusahaan perdagangan alat dan furniture laboratorium. Kalau dilihat sekilas, bangunan kantor gue nggak terlalu besar. Karena posisinya memang di komplek ruko perkantoran. Tapi, sialnya skala perusahaan nya udah internasional yang buat gue mau nggak mau harus bisa bersaing global.
Awal mula gue bisa jadi bagian dari ITS Group (nama kantor gue) karena kegundahan gue setahun yang lalu setelah wisuda. Tiga bulan nganggur tanpa pemasukan sedikitpun buat gue mau nggak mau harus selalu stay di depan laptop setiap hari untuk apply lamaran kerja di semua situs. Hampir setiap hari gue bombardir semua situs lamaran kerja sampai gue nggak bisa akses akun gue lagi karena sudah mencapai batas maksimum. Ya wajar aja sih waktu itu gue memang membabi buta, hampir dua ratus lamaran setiap hari gue masukin di situs-situs kampret itu. Dan sialnya hampir tiga bulan belum juga ada panggilan.

Alhasil gue cuma bisa doa. Minta sama Allah buat cepet-cepet dapet kerjaan. Karena sedikit memalukan memang lulus kuliah dan masih ada di rumah.
Dan Allah Maha Mendengar itu ternyata bukan cuma teori. Pertengahan Desember 2016 gue dapet panggilan kerja di perusahaan pialang. Awalnya nggak yakin dan gue sempet nggak mau berangkat. Tapi rasanya gue nggak tahu terima kasih kalau sampai milih-milih kerjaan di masa sulit kaya gini. Akhir nya gue berangkat. Dan bener aja itu perusahaan nggak beres. (kayanya bagian ini nggak perlu gue ceritain)

Akhirnya gue balik lagi luntang-lantung sebagai manusia yang nggak ada gunanya.
Tapi bukan Allah kalau cuma denger satu doa.
Seminggu setelah itu pacar sepupu gue kasih info kalau perusahaan nya butuh anak magang buat gantiin karyawan yang lagi cuti hamil. Gue langsung mau saat di tawarin kerjaan itu tanpa pertimbangan sama sekali.

Setelah gue dateng, interview, dan di tes ala kadarnya hari itu juga gue resmi jadi anak magang di ITS selama tiga bulan. Awalnya susah. Susah banget. Pengen udahan aja. Tapi, sayang nya gue bukan anak saudagar yang bisa santai-santai di rumah. Gue harus kerja keras. Paling nggak untuk bikin orang tua bangga dulu. Selama magang, gue sempet ikut beberapa kali interview di perusahaan lain dan nggak ada satupun yang lolos. Ada yang udah cocok tapi tiba-tiba aja gue milih untuk nggak ngambil kerjaan itu. Selalu ada alasan untuk gue bertahan di kantor saat itu. Sepertinya karena doa yang pernah gue minta sama Allah beberapa bulan setelah gue resmi jadi anak magang.
Jadi gue pernah minta doa untuk jadi karyawan tetap ITS. Gue minta sama Allah semoga sebelum kontrak magang ini selesai ada orang yang resign dan gue bisa gantiin kerjaan nya. Kayanya Allah denger dan langsung dikabulin. Gue nggak pernah lolos tes di perusahaan mana pun. Seminggu sebelum kontrak gue selesai ada orang yang resign dan gue di tawarin buat gantiin posisi dia. Semua orang bilang gue beruntung.

Awalnya gue sempet ragu dan nggak mau ambil tawaran itu. Tapi, lagi-lagi karena gue bukan anak juragan minyak gue harus kerja keras.
Kalau ada yang tanya kenapa gue sempet nggak mau, karena gue belum bisa saat itu. Masih sering salah. Masih takut besok gue harus ngerjain apa. Karena memang gue sama sekali nggak suka sama kerjaan itu. Padahal untuk perempuan, posisi gue sekarang udah jadi yang paling aman. Di kantor, ruangan ber-AC, duduk doang seharian. Pekerjaan idaman semasa SMP. Tapi nggak untuk gue yang udah mulai ngerti apa yang gue mau jalani.

Tapi, akhirnya sekarang gue masih di sini. Di kantor yang dari bagian luar sampai terdalam mulai terlihat menyenangkan. Paling nggak, suasana dan rekan kerja yang baik bikin gue bertahan disini dan lupa sama apa yang gue mau jalani. Gue mulai belajar untuk mencintai apa yang gue kerjakan, meski mengerjakan apa yang gue cintai rasanya akan lebih menyenangkan. Buat gue, kemampuan dan rasa nyaman itu bisa diasah pelan-pelan. Di latih kaya hati. Di kasih waktu untuk akhirnya mau.
Setelah beberapa bulan, gue mulai bisa dan terbiasa dengan kerjaan yang tiap hari numpuk. Masih ada sih yang belum bisa tapi gue yakin gue bakal bisa.

Dan mungkin juga ini memang jawaban dari doa yang selalu gue minta sama Allah.
Allah cuma mau gue nikmatin apa yang udah Dia kasih.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...