Gemuruh tepuk tangan membuat Adam tidak bisa menahan senyumnya. Permainan gitar nya mulai membuat para wanita tergila-gila. Di barisan paling depan, seorang wanita juga ikut tersenyum. Hatinya hangat.
Mata nya selalu mengikuti arah pandangan Adam, berharap Adam menghentikan pandangan tepat di mata nya.
Wanita itu masih tersenyum.
Adam menemukan nya, ia tersenyum dan melambaikan tangan. Semua wanita merasa hal itu untuk nya.
Senyum dan lambaian itu hanya untuk Khaylila.
Wanita itu selalu menunggu Adam di tiap penampilan. Mereka akan selalu pulang bersama setelah acara usai. Wanita itu akan mendengarkan bagaimana Adam menceritakan perasaan nya tiap kali di atas panggung. Adam menikmati senyuman Kahylila tiap ia bercerita.
Gitar itu pemberian Khaylila. Keberanian untuk tampil di depan umum juga pemberian Khaylila. Adam tidak pernah berterima kasih. Adam hanya selalu menyukainya.
Puluhan perangko di buku kesayangan Khaylila sebagian hasil pemberian Adam. Khaylila tidak pernah berterima kasih. Ia hanya selalu jadi penonton paling depan. Penggemar nomor satu. Karena ia merasa untuk jadi satu-satu nya di hati Adam ia perlu mengalahkan banyak hal.
Mereka berdua saling menyukai tapi sama-sama tidak berani meninggalkan tempat masing-masing.
Mereka berdua merasa mencintai paling dalam, merasa sudah mengorbankan segala hal. Padahal kenyataanya mereka tidak bergerak.
Mereka bahkan terkurung jauh di dasar hanya untuk menanyakan apa kabar, menanyakan apakah cuaca cukup baik, apakah cuaca buruk.
Mereka berdua sama-sama tidak tahu bahwa cinta sudah membalas perasaan mereka. Mereka merasa disakiti dengan pikiran masing-masing.
Jika salah dari satu berani menyatakan, tidak akan ada yang merasa sudah melakukan segalanya.
Malam-malam mereka selalu di penuhi pertanyaan, penyesalan.
Berharap hukuman datang dan menukarkan jiwa mereka supaya segala yang rahasia, terbuka.
Adam, pria pemain gitar yang menyimpan Khaylila jauh di dalam hati nya.
Khaylila, wanita pengoleksi perangko yang menjadikan Adam satu-satu nya.
Bertahun berlalu, mereka tua dan tidak bersama. Tidak ada yang berubah.
Mereka masih mencintai diri mereka masing-masing dengan seseorang yang mereka biarkan hidup di dalam harapan.
Mereka menua dengan penyesalan, masih dengan harapan supaya saling mencintai tidak butuh dua orang.
Mata nya selalu mengikuti arah pandangan Adam, berharap Adam menghentikan pandangan tepat di mata nya.
Wanita itu masih tersenyum.
Adam menemukan nya, ia tersenyum dan melambaikan tangan. Semua wanita merasa hal itu untuk nya.
Senyum dan lambaian itu hanya untuk Khaylila.
Wanita itu selalu menunggu Adam di tiap penampilan. Mereka akan selalu pulang bersama setelah acara usai. Wanita itu akan mendengarkan bagaimana Adam menceritakan perasaan nya tiap kali di atas panggung. Adam menikmati senyuman Kahylila tiap ia bercerita.
Gitar itu pemberian Khaylila. Keberanian untuk tampil di depan umum juga pemberian Khaylila. Adam tidak pernah berterima kasih. Adam hanya selalu menyukainya.
Puluhan perangko di buku kesayangan Khaylila sebagian hasil pemberian Adam. Khaylila tidak pernah berterima kasih. Ia hanya selalu jadi penonton paling depan. Penggemar nomor satu. Karena ia merasa untuk jadi satu-satu nya di hati Adam ia perlu mengalahkan banyak hal.
Mereka berdua saling menyukai tapi sama-sama tidak berani meninggalkan tempat masing-masing.
Mereka berdua merasa mencintai paling dalam, merasa sudah mengorbankan segala hal. Padahal kenyataanya mereka tidak bergerak.
Mereka bahkan terkurung jauh di dasar hanya untuk menanyakan apa kabar, menanyakan apakah cuaca cukup baik, apakah cuaca buruk.
Mereka berdua sama-sama tidak tahu bahwa cinta sudah membalas perasaan mereka. Mereka merasa disakiti dengan pikiran masing-masing.
Jika salah dari satu berani menyatakan, tidak akan ada yang merasa sudah melakukan segalanya.
Malam-malam mereka selalu di penuhi pertanyaan, penyesalan.
Berharap hukuman datang dan menukarkan jiwa mereka supaya segala yang rahasia, terbuka.
Adam, pria pemain gitar yang menyimpan Khaylila jauh di dalam hati nya.
Khaylila, wanita pengoleksi perangko yang menjadikan Adam satu-satu nya.
Bertahun berlalu, mereka tua dan tidak bersama. Tidak ada yang berubah.
Mereka masih mencintai diri mereka masing-masing dengan seseorang yang mereka biarkan hidup di dalam harapan.
Mereka menua dengan penyesalan, masih dengan harapan supaya saling mencintai tidak butuh dua orang.
Komentar
Posting Komentar