Langsung ke konten utama

Luar Angkasa

Langit Jakarta sedang begitu cerah. Perjalanan menuju Jogja sepertinya akan berjalan penuh cinta. Sebagian memilih tidur karena memang sepagi ini harus nya mimpi masih menguasai. Di sebelah saya Iva sibuk dengan buku catatan nya. Saya tidak mau tahu dengan apa yang sedang ia kerjakan. Saya memilih menjadi bagian dari manusia normal dengan menghabiskan waktu diperjalanan dengan tidur.

“Va, saya tidur. Please jangan ganggu.” Ujar saya mengingatkan. Iva hanya bergumam dan masih sibuk dengan buku di tangan.

Saya tidak sepenuhnya tidur, saya masih bisa mendengar suara yang berkeliaran. Seperti Iva yang sedari tadi bersenandung melawan seorang ibu yang sedang berusaha menidurkan anak nya dengan suara yang membuat kita semua terbangun. Tapi, saya tetap memejamkan mata berharap perjalanan ini berakhir segera.

Wajah-wajah baru yang pertama kali saya temui. Jutaan langkah kaki yang tidak ingin berhenti. Raut kesedihan dan bahagia yang sedari tadi menjadi pusat perhatian saya. 

Jogja sama sekali tidak bersahabat kali ini. Matahari sedang riang gembira, cuaca yang memaksa kita untuk lebih memilih diam di rumah. Beberapa rombongan ada yang sibuk mengeluh sambil mengipaskan tangan mereka yang sebenarnya tidak membantu mengusir cuaca panas disini. Ada yang membeli minuman dingin dan ada yang memilih diam.

Lima menit yang lalu panitia memberi tahu bahwa bus yang akan menjemput rombongan gathering dari Jakarta terlambat. Saya tidak begitu mendengarkan alasan yang sedang di jelaskan. Pikiran saya sedang menerawang jauh tentang seseorang. Saya tidak begitu yakin, tapi saya senang berada disini dengan cuaca seterik ini.

Yang ditunggu akhirnya datang, semua rombongan segera menuju bus masing-masing. Sehari sebelum berangkat panitia mengumumkan teman sekamar dan bus mana yang akan kami naiki saat gathering. Rekan dari kantor cabang Surabaya sudah lebih dulu berada di dalam bus. Sepertinya keterlambatan tadi karena menjemput mereka. Saya menaiki bus yang berisi dua puluh orang. Di dalam, paling sudut kanan seorang pria dengan jaket abu-abu dan topi hitam sibuk memandang keluar jendela dengan ponsel di tangan. Sepertinya dia sedang memotret sesuatu. Wajah nya tidak begitu jelas, tapi saya tahu pria itu. Pria yang beberapa hari lalu membuat saya begitu salah tingkah.

Art, dia tampan sekali.

Saya memilih bangku paling depan supaya lebih leluasa memperhatikan jalanan. Rombongan gathering tiba di tempat wisata pertama, Candi Prambanan. Cuaca yang panas membuat saya tidak begitu bersemangat. Saya lebih memilih duduk di bawah pohon memperhatikan semua orang yang sibuk mengabadikan diri mereka. Saling bicara, tertawa dan lebih banyak mengeluh. Tiga puluh menit berlalu dan saya masih belum beranjak dari tempat semula. Rombongan yang lain sudah berjalan ke arah pintu keluar. Sebagian ada yang kepanasan dan sebagian lagi kelaparan. Setelah melewati pintu keluar ada banyak penjual oleh-oleh dan pernak-pernik. Saya tidak bisa menahan diri. Saya berjalan ke arah toko aksesoris dan melihat beberapa gelang. Saya mengeluarkan satu lembar uang ratusan ribu untuk membayar tiga buah gelang yang dihargai sepuluh ribu.

“Pakai uang kecil saja, mbak.” Ujar penjual gelang tersebut sembari menangkupkan kedua tangan. Saya sibuk mencari uang yang mungkin terselip di tempat-tempat tersembunyi di tas dan beberapa kantung celana, tapi hasilnya nihil. Saya sangat ingin gelang itu.

“Pakai ini saja, mbak.” Seorang pria menyerahkan satu lembar uang sepuluh ribu kepada penjual yang sedari tadi menunggu saya.

“Wah, untung ada mas. Matur suwun ya.” Ucap penjual tadi dengan senyum lebar seraya menyerahkan gelang kepada pria itu.

Saya menatap pria itu dengan senyum yang penuh arti. Dia meraih tangan saya dan memberikan gelang di genggaman nya. Dia tersenyum.

“Siapin uang kecil lain kali.”

Thank you.”

Pria itu hanya tersenyum dan memberikan kode dengan gerakan kepala untuk melanjutkan perjalanan menuju bus. Saya masih menggenggam tiga gelang yang baru saja ia berikan. Atau mungkin lebih tepat nya ia belikan. Kami berjalan cukup jauh untuk menuju parkiran dan sepanjang jalan kami sama sekali tidak saling bicara. Beberapa kali saya berusaha mencari cara untuk melihatnya tanpa menoleh ke arah nya. Tapi, selalu gagal.

Kami berdua sampai di bus lebih dulu, sepertinya yang lain sedang sibuk mencari oleh-oleh atau sekedar melihat-lihat. Di dalam bus hanya ada supir yang sedang begitu menikmati lagu dangdut yang diputar di radio. Saya duduk tepat di belakang supir itu mendengar senandung kecil yang coba ia keluarkan dengan malu-malu. Tidak lama, pria itu juga masuk dan menyapa sang supir yang sedang asik dengan diri nya sendiri. Saya pikir, dia akan berjalan ke belakang tempat nya semula. Ternyata dia duduk di sebelah saya.

“Panas banget ya bang hari ini.” Ujar nya seperti berusaha mengakrabkan diri.

“Ngga biasa nya Jogja begini mas.” Jawab sang supir seraya mengecilkan volume radio.

Saya menatap pria itu dan tersenyum. “By the way, nanti uang nya saya ganti.” Kata-kata yang keluar begitu saja saat saya berani melihat nya.

“Kok belum di pakai gelang nya, sini.” Ucapnya tanpa merespon lalu meraih tangan kiri saya dan memakaikan tiga gelang yang sedari tadi masih saya genggam. “Lucu juga kalau langsung dipakai semua.” Ucapnya masih dengan menggenggam pergelangan tangan saya.

“Saya Art.”

Rasanya ingin sekali menjawab kalau saya sudah tahu nama nya. Tapi, tidak jadi. Saya memilih untuk berpura-pura baru mengenal nya.

“Saya Villa.”

Dia menjabat erat tangan saya dan tersenyum. Lalu dia berjalan ke belakang untuk kembali ke tempat nya semula. Tidak lama berselang semua orang mulai memasuki bus untuk melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan saya tersenyum dengan kedua tangan di pipi, berusaha memadamkan rona merah muda. Saya tahu, Iva memperhatikan sejak tadi dan saya tidak peduli.


Rasanya ada yang sedang jatuh di dalam diri saya. Tuhan, tolong jangan bolak-balikan hati secepat ini. 


#Cerbung Part 5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...