Hai, apa hari mu bahagia?
Mungkin kamu akan sangat bosan membaca surat ini, karena isi nya hanya melulu tentang aku yang mencintaimu.
Aku ingin menyampaikan banyak hal melalui surat ini, jadi baca lah hingga kamu jatuh cinta.
Yang pertama,
Hampir dua tahun aku memiliki perasaan ini. Penuh--utuh. Belum berganti dan selalu satu. Kamu. Yang akan selalu ada dalam perbincangan santai dengan teman dan permohonan serius pada Tuhan. Aku tidak ingin merasa lelah mencintai kamu. Aku ingin berterima kasih, karena perasaan ini aku selalu berusaha menjadi baik. Meskipun kamu tidak ingin menjadi niat dari semua hal-hal baik yang aku niatkan. Entah bagaimana bisa, aku rasa perasaan ini yang selalu menyelamatkan aku dari kecewa. Dari memaksa. Dari terlalu menggantung harap.
Yang kedua,
Dalam waktu yang bersamaan kamu membuat aku menjadi wanita yang berani sekaligus penakut. Aku berani mempertaruhkan waktu ku untuk menunggu kamu. Tapi aku tidak berani mendengar, melihat, atau apapun yang akan nanti nya kamu lakukan pada ku jika kita bertemu. Aku mencintai cara jatuh cinta seperti ini. Tidak takut melukai atau dilukai kamu.
Yang ketiga,
Tidak semua yang aku tulis diatas adalah sejujurnya perasaan. Ada kata-kata yang aku gunakan untuk menguatkan hatiku sendiri tentu nya. Beberapa kali aku pernah kecewa karena perasaan ku sendiri terhadapmu. Bukan karena kamu. Saat tiba-tiba saja seorang puan berhasil dengan begitu mudah mencuri perhatianmu. Sedang aku, harus rela menunggu. Saat kamu sedang begitu sibuk dan aku begitu rindu. Tentu saja kamu tidak berkewajiban memberikan kabar atau penjelasan. Tapi, disaat-saat seperti itu aku akan menyakiti diriku dengan memikirkan kemungkinan yang menyebalkan. Dan kamu harus nya tahu kalau aku tidak baik-baik saja mencintai kamu. Kadang, aku juga ingin kamu perhatikan. Tapi memang aku tidak bisa menuntut apapun. Karena untuk disebut teman pun kita terlalu jauh.
Tapi, kamu harus tahu kalau aku selalu mendoakan keberadaanmu. Semoga saja kita tidak dipertemukan sekarang karena memang untuk suatu alasan yang baik. Kamu tahu, dan akan selalu tahu aku mencintai kamu.
Mungkin untuk menutup surat ini aku akan mengutip kalimat dari seseorang,
"Selesaikan semua yang kamu lakukan di sana. jangan terburu-buru. aku tidak akan kemana-mana"
Mungkin kamu akan sangat bosan membaca surat ini, karena isi nya hanya melulu tentang aku yang mencintaimu.
Aku ingin menyampaikan banyak hal melalui surat ini, jadi baca lah hingga kamu jatuh cinta.
Yang pertama,
Hampir dua tahun aku memiliki perasaan ini. Penuh--utuh. Belum berganti dan selalu satu. Kamu. Yang akan selalu ada dalam perbincangan santai dengan teman dan permohonan serius pada Tuhan. Aku tidak ingin merasa lelah mencintai kamu. Aku ingin berterima kasih, karena perasaan ini aku selalu berusaha menjadi baik. Meskipun kamu tidak ingin menjadi niat dari semua hal-hal baik yang aku niatkan. Entah bagaimana bisa, aku rasa perasaan ini yang selalu menyelamatkan aku dari kecewa. Dari memaksa. Dari terlalu menggantung harap.
Yang kedua,
Dalam waktu yang bersamaan kamu membuat aku menjadi wanita yang berani sekaligus penakut. Aku berani mempertaruhkan waktu ku untuk menunggu kamu. Tapi aku tidak berani mendengar, melihat, atau apapun yang akan nanti nya kamu lakukan pada ku jika kita bertemu. Aku mencintai cara jatuh cinta seperti ini. Tidak takut melukai atau dilukai kamu.
Yang ketiga,
Tidak semua yang aku tulis diatas adalah sejujurnya perasaan. Ada kata-kata yang aku gunakan untuk menguatkan hatiku sendiri tentu nya. Beberapa kali aku pernah kecewa karena perasaan ku sendiri terhadapmu. Bukan karena kamu. Saat tiba-tiba saja seorang puan berhasil dengan begitu mudah mencuri perhatianmu. Sedang aku, harus rela menunggu. Saat kamu sedang begitu sibuk dan aku begitu rindu. Tentu saja kamu tidak berkewajiban memberikan kabar atau penjelasan. Tapi, disaat-saat seperti itu aku akan menyakiti diriku dengan memikirkan kemungkinan yang menyebalkan. Dan kamu harus nya tahu kalau aku tidak baik-baik saja mencintai kamu. Kadang, aku juga ingin kamu perhatikan. Tapi memang aku tidak bisa menuntut apapun. Karena untuk disebut teman pun kita terlalu jauh.
Tapi, kamu harus tahu kalau aku selalu mendoakan keberadaanmu. Semoga saja kita tidak dipertemukan sekarang karena memang untuk suatu alasan yang baik. Kamu tahu, dan akan selalu tahu aku mencintai kamu.
Mungkin untuk menutup surat ini aku akan mengutip kalimat dari seseorang,
"Selesaikan semua yang kamu lakukan di sana. jangan terburu-buru. aku tidak akan kemana-mana"
Komentar
Posting Komentar