Bagaimana perjalananmu?
Semoga selalu bahagia.
Itu seperti mantra. Kuberikan untukmu. Simpanlah.
Mungkin suatu hari kamu membutuhkannya.
Kamu sudah sampai dimana? Masih dalam perjalanan? Atau sudah bersantai? Atau apa? Beri aku tanda sedikit saja.
Karena perjalananmu itu, sedari pagi aku sibuk dengan gadget. Membaca semua artikel tentang puncak yang sedang kamu daki. Paling tidak aku tahu apa yang sedang kamu tuju.
Aku mohon, jaga sehatmu selama disana. Kamu tahu bukan, setiap wanita diciptakan dengan rasa khawatir yang lebih. Karena kami wanita begitu istimewa. Disiapkan hati yang begitu besar untuk menampung kecewa dan rindu yang terkadang bisa teramat dalam.
Dan kali ini, aku rindu. Entah rindu yang seperti apa, tapi aku dengar rindu ini mengeja nama mu tanpa jeda.
Aku ingat satu hal, kamu pernah mengumumkan sebuah mantra. Bolehkah kugunakan?
Katamu, ini mantra jika kau rindui aku.
Pulanglah
Pulanglah
Pulanglah.
Jika kamu dengar mantra itu, ku mohon jangan merasa terganggu. Aku hanya ingin tahu, apa mantra itu berfungsi dengan baik.
Maka, nikmati saja perjalananmu. Bawa lagi kesendirianmu bertamasya ke tempat yang lebih jauh. Jangan biarkan kesendirian mu menemukan lagi tempat-tempat untuk menyepi.
Atau kau bisa pejamkan mata dan mulai mencintai (ku). Itu saja.
Begitu kan ujarmu sebelum pergi?
Aku menunggumu.
Aku akan menunggu.
Jadi kamu tidak perlu terburu-buru. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.
Semoga perjalananmu menyenangkan.
Semoga selalu baik-baik saja.
Semoga selalu bahagia.
Semoga kamu tidak pulang dengan wajah merah dan kaki gatal.
Semoga kamu menyertakan aku dalam perjalananmu, tuan Asr.
Aku sudah katakan pada puncak itu untuk menerimamu dengan baik, untuk memelukmu selama disana.
Jangan khawatir, aku tidak akan cemburu. Karena aku sudah memelukmu lewat doa-doaku.
Komentar
Posting Komentar