Tidak
susah kan mencari alamat rumahku?
Aku
harap jawabanya tidak, karena sesungguhnya hatimu lah penuntunnya.
Siang
itu aku menunggu dengan gusar, ah, entahlah , perasaan macam apa ini. Pertemuan
pertama kita setelah melewati banyak menit dalam sambungan jarak jauh bernama
telepon. Aku gugup? Ya, tentu saja. Aku senang merawat rasa gugup ini saat
bersamamu.
Aku
kembali merasakan gejolak yang orang sebut sebagai rasa. Semuanya jelas didepan
mataku. Kau tahu, rambut gondrong mu itu yang mencuri perhatianku sejak awal.
Aku seperti melihat jutaan kebebasan disana.
Kau
ingat, saat kau menjabat tanganku untuk kali pertama? Kau menyalamiku seperti
aku ini rekan kerjamu. Kau terlihat begitu kikuk, untuk akhirnya senyuman yang
selama ini aku lihat di foto itu kini nyata.
Entah,
bagaimana bisa aku mengingatnya dengan begitu jelas. Hari itu sepertinya sudah
terekam permanen dalam memoriku. Sama halnya dengan pertemuan pertama kita yang
kutunggu dengan gusar, aku selalu menunggu pertemuan selanjutnya, dan aku harap
rasa gusar dan gugup itu tetap bersarang.
Oh
iya, kau begitu tinggi dan kurus, sedangkan aku pendek dan sedikit gemuk.
Bisakah kita hapuskan yang ini? Sejujurnya aku benci melihat perbedaan fisik
kita yang begitu mencolok. Semoga di pertemuan selanjutnya tiba-tiba kau
menjadi sedikit pendek dan lebih berisi atau aku yang tiba-tiba lebih tinggi
dan kurus. Jika keduanya tak bisa, bisakah rasa kita saling melengkapi dan
tumbuh bersama?
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-2
Komentar
Posting Komentar