Langsung ke konten utama

Pertemuan kita yang pertama


Tidak susah kan mencari alamat rumahku?
Aku harap jawabanya tidak, karena sesungguhnya hatimu lah penuntunnya.
Siang itu aku menunggu dengan gusar, ah, entahlah , perasaan macam apa ini. Pertemuan pertama kita setelah melewati banyak menit dalam sambungan jarak jauh bernama telepon. Aku gugup? Ya, tentu saja. Aku senang merawat rasa gugup ini saat bersamamu.
Aku kembali merasakan gejolak yang orang sebut sebagai rasa. Semuanya jelas didepan mataku. Kau tahu, rambut gondrong mu itu yang mencuri perhatianku sejak awal. Aku seperti melihat jutaan kebebasan disana.
Kau ingat, saat kau menjabat tanganku untuk kali pertama? Kau menyalamiku seperti aku ini rekan kerjamu. Kau terlihat begitu kikuk, untuk akhirnya senyuman yang selama ini aku lihat di foto itu kini nyata.
Entah, bagaimana bisa aku mengingatnya dengan begitu jelas. Hari itu sepertinya sudah terekam permanen dalam memoriku. Sama halnya dengan pertemuan pertama kita yang kutunggu dengan gusar, aku selalu menunggu pertemuan selanjutnya, dan aku harap rasa gusar dan gugup itu tetap bersarang.
Oh iya, kau begitu tinggi dan kurus, sedangkan aku pendek dan sedikit gemuk. Bisakah kita hapuskan yang ini? Sejujurnya aku benci melihat perbedaan fisik kita yang begitu mencolok. Semoga di pertemuan selanjutnya tiba-tiba kau menjadi sedikit pendek dan lebih berisi atau aku yang tiba-tiba lebih tinggi dan kurus. Jika keduanya tak bisa, bisakah rasa kita saling melengkapi dan tumbuh bersama?


#30HariMenulisSuratCinta  Hari ke-2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...